News

Perayaan HUT ke-6 Gereja Filadelfia Ambon, Kemenag Maluku Kenalkan Trilogi Kerukunan Jilid II

Dalam upaya memperkuat nilai-nilai harmoni dan kedamaian, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku memperkenalkan Trilogi Kerukunan Jilid Dua.

Konsep transformasional ini digagas Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar sebagai upaya membangun kehidupan yang selaras. Trilogi kerukunan jilid II disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Kristen Kanwil Kemenag Maluku, Stepanus Tia dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-6 Gereja Filadelfia Pimpinan Roholkudus Jemaat El-Gibbor, di Gedung RRI Ambon, Senin (22/9/2025).

Perayaan HUT ke-6 Gereja Filadelfia Ambon ini dihadiri Kepala Kelompok Staf Ahli Kodam XV/Pattimura, Brigjen TNI Julius Jolly Suawa, Pimpinan dan gembala Gereja Filadelfia Wilayah X Maluku, para gembala bersama jemaat gereja, beserta para Ketua Tim Kerja dan staf pada Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Maluku.

Menurut Stepanus Tia, trilogi kerukunan versi pertama telah lama menjadi pondasi moderasi beragama di Indonesia, meliputi tiga poros penting: kerukunan antarumat seagama, kerukunan lintas agama, dan keharmonisan antara umat beragama dengan pemerintah.

Namun, dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang, diperlukan penguatan dimensi spiritual dan ekologis, yang kemudian menjadi landasan utama dari Trilogi Kerukunan Jilid Dua.

Kabid Bimas Kristen menegaskan bahwa kerukunan dengan Tuhan menjadi prioritas utama. Stepanus mengajak semua jemaat gereja untuk memperdalam hubungan spiritual yang bersih dari kepentingan pribadi dan egoisme.

Ia menekankan pentingnya spiritualitas yang jernih, ikhlas, dan tulus agar tercapai kehidupan yang seimbang secara rohani dan sosial.

Berikutnya kerukunan antar sesama manusia. Dalam konteks ini, perbedaan agama, suku, dan budaya tidak boleh menjadi alasan untuk saling melemahkan dan menghancurkan.

“Apapun agamanya, apapun etniknya, kita adalah sama-sama manusia,” tegasnya.

Konsep kerukunan manusia ini tidak hanya mengedepankan toleransi, namun juga menanamkan nilai-nilai empati dan kolaborasi antarindividu demi membentuk masyarakat yang adil, damai, dan saling menghormati.

Trilogi Kerukunan Jilid II yang ketiga, Stepanus Tia menyebutkan, pentingnya relasi antara manusia dan alam semesta. Menurutnya, lingkungan hidup bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan bagian dari makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki peran dalam keseimbangan kehidupan.

“Alam semesta bukan hanya benda mati yang bisa dieksploitasi. Ia adalah sahabat, partner, bahkan partisipan dalam spiritualitas kita,” terang mantan Kepala Kantor Kemenag Maluku Barat Daya ini.

Melalui pendekatan ekoteologis, Stepanus Tia mengajak seluruh pimpinan dan jemaat gereja untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan dan menjadikan alam sebagai bagian dari praktik keagamaan yang menyatu.

Melalui pengenalan trilogi kerukunan jilid dua, Stepanus Tia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi pelopor harmoni lintas kehidupan: Tuhan, manusia, dan alam.

Dengan integritas dan pengabdian yang tinggi, Indonesia khususnya Maluku diharapkan tumbuh menjadi negeri yang tidak hanya religius, tetapi juga ramah lingkungan dan penuh cinta kasih.

Related Posts

1 of 10